Monday, 25 January 2016

Asal Usul nenek Moyang




BAB 1
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG

Adapun latar belakang yang mendasari saya untuk menyusun makalah ini adalah untuk lebih mengetahui tentang asal usul datangnya  nenek moyang bangsa indonesia ke kepulauan nusantara.

B.    Rumusan masalah

Adapun rumusan masalah yang saya gunakan adalah :
·        Darimana datangnya nenek moyang bangsa indonesia dan bagaimana cara mereka dapat menyebar ke seluruh kawasan nusantara ?
·        Bagaimana cara mereka datang menuju ke nusantara dan apa budaya serta system kepercayaannya ?


C.    Tujuan

Adapun tujuan saya adalah untuk menegerjakan tugas sejarah yang di berikan oelh guru sejarah saya.





BAB II
PEMBAHASAN

A.   TEORI ASAL USUL NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA

Selaian munculnya teoro-teori yang lahir dari hasil penemuan fosil-fosil manusia purba yang telah di temukan, berkembang pula teori-teori lainnya mengenai asal usul nenek moyang bangsa Indonesia. Teori tersebut di kemukakan oleh beberapa ahli, antara lain sebagai berikut :
a)    Brandes
Berdasarkan perbandingan bahasa, Berandes menyimpulkan  bahwa bahasa yang di gunakan  bangsa Indonesia memiliki kemiripan dengan bahasa yang di gunakan  bangsa-bagsa  yang emndiami pulau Formosa (Taiwan) di bagian utara , pulau jawa dan bali sebelah selatan, dan pulau madagaskar di sebelah barat sampai dengan daerah tepi barat pantai amerika di sebelah timur.
b)    William smith
Sama seperti Brandes, William smith mengemukkan pendapat dengan membandingkan kesamaan bahasa. Ia mengemukakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari bangsa Melanesia, dan Polinesia.
c)     Von heine geldren
Berdasarkan artefak yang di temukan di Indonesia, yang mirip dengan artefak yang di temukan di Asia daratan, maka von heine geldren berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia daratan.

d)    Mohamad yamin
Salah seorang sejarawan Indonesia berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Indonesia itu sendiri. Pendapat ini ia kemukakan berdasarkan banyaknya fosil dan artefak tertua di temukan di Indonesia. Misalnya pethecantropus erectus, meganthropus paleojavanicus, homo soloensis, dan homo wajakensis.
e)     H. kern
Menurut H. kern bangsa Indonesia berasal dari daerah Campa, Kamboja. Berdasarkan penelitiannya tentang perbandingan bahasa , ditemukan bahwa bahasa yang di pakai di daerah tersebut sama dengan bahasa yan g di pakai di Nusantara
.
B.    Kedatangan dan persebaran nenek moyang bangsa Indonesia
1)    Proses kedatangan nenek moyang
Nenek moyang bangsa Indonesia yang datang pertama kali ke Nusantara adalah bangsa  proto melayu  yang membawa kebudayaan neolitikum menggunakan perahu bercadik satu. Mereka datang dari Yunan ke Indonesia melalui jalur barat dan timur. Migrasi jalur barat di lakukan dari Yunan ke semenanjung Malaysia, Kalimantan , menuju Jawa dan Nusa Tenggara dengan membawa kebudayaan kapak persegi. Penyebaran jalur timur di mulai dari Teluk Tonkin menyusuri pantai Asia timur menuju Taiwan , Filipina, Sulawesi, Maluku, hingga ke Papua, sampai Australia dengan membawa kebudayaan kapak lonjong. Kebudayaan kapak lonjong yang di sebut Neolitikum papua ini banyak di temukan di Minahasa, Seram, Kalimantan, dan Papua. Gelombang ke dua kedatangan nenek moyang bnagsa Indonesia terjadi sekitar 500 SM yang di bawa oleh rumpun bangsa Deutro melayu menggunakan perahu bercadik dua. kebudayaan Deutro melayu relative lebih maju daridi bandingkan dengan kebudayaan bangsa Proto melayu karena sudah mengenal benda-benda dari perunggu seperti kapak corong , nekara, dan perhiasan perunggu. Bangsa Deutro melayu akhirnya dapat mendesak bangsa Proto melayu yang lebih dulu menetap di Indonesia. Bangsa Deutro melayu memilih tinggal di pesisir, muara, dan sungai karena letaknya strategis, subur, memiliki persediaan bahan makanan yang melimpah, dan mudah dilalui. Selanjutnya ras Deutro melayu menjadi nenek moyang sebagian besar  bangsa Indonesia saat ini. Menurut Von heine geldren, nenek moyang bangsa Indonesia merupakan campuran antara bangsa pendatang dari Yunan di Tiongkok selatan dengan penduduk asli Indonesia.

2)    Persebaran nenek moyang bangsa Indonesia
Proses kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia ke kepulauan nusantara berlangsung secara bertahap/ bergelombang. Cirri-ciri perpindahan gelombang tahap pertama dalah kebudayaan Neolitikum (batu muda), dan menggunakan perahu bercadik satu. Migrasi gelombang kedua mengunakan perahu bercadik dua. Sebenarnya bangsa yang datang ke Indonesia dan menjadi nenek moyang bangsa Indonesia itu merupakan ras campuran antara bangsa Mongol dan Melayu. Dari hasil pencampuran ras tersebut, lahirlah bangsa Proto melayu (melayu tua) dan Deutro melayu (melayu muda). Ras melayu tua datang pada gelombang pertama dan menjadi suku bangsa yang tinggal di daerah pedalaman, seperti suku batak di Sumatra, suku dayak di Kalimantan, dan suku toraja di sulawesi. Sementara ras melayu muda datang pada gelombang kedua dan menjadi cikal bakal suku-suku jawa, sunda, bali, dan suku-suku yang mendiami wilayah pesisir di pulau-pulau tersebut.
Menurut Soekmono dalam pengantar sejarah kebudayaan Indonesia I, masyarakat pada zaman praaksara yang datang pertamakali di kepulauan Indonesia adalah ras Austroloid sekitar 20.000 tahun yang lalu. Selanjutnya, disusul kedatangan ras Melanesia mongoloid sekitar 10.000 tahun yang lalu. Ras yang terakhir datang ke Indonesia adalah ras Melayu mongoloid sekitar 2500 tahun SM pada zaman Neolitikum dan Logam. Ras Austroloid kemudian bermigrasi ke Australia dan sisanya dan sisanya hidup di Nusa Tenggara Timur dan Papua, sedangkan ras Melanesia mongoloid berkembang di Maluku dan papua. Ras Melayu mongoloid menyebar di Indonesia bagia barat. Ras-ras tersebut tersebar dan membentuk berbagai suku bangsa di Indonesia. Kondisi tersebut juga mendorong terjadinya kemajemukan  kelompok social di Indonesia.
Pada saat nenek moyang bangsa Indonesia datang secara bergelombang dari asia daratan ke Nusantara sekitar 2500 tahun SM, keadaan geografis Indonesia yang luas telah memaksa nenek moyang bagsa Indonesia untuk menetap di daerah yang terpisah satu sama lain. Isolasi geografis tersebut mengakibatkan penduduk yang menempati setiap pulau di Nusantara tumbuh menjadi kesatuan suku bangsa yang hidup terisolasi dari suku bangsa lainnya. Setiap suku bangsa tersebut tumbuh menjadi kelompok masyarakat yang di satukan oleh ikatan-ikatan emosianal serta memandanmg diri mereka sebagai suatu kelompok masyarakat tersendiri. Selanjutnya, kelompok suku bangsa tersebut mengembangkan kepercayaan bahwa mereka memiliki asal-usul keturunan yang sama dengan didukung oleh suatu kepercayaan yang berbentuk mitos-mitos yang hidup didalam masyarakat. Suku bangsa di Indonesia seperti suku Jawa, Sunda, Batak, Minang, Timor, Bali, Sasak, Papua, dan Maluku memiliki adat istiadat dan bahasa yang berbeda-beda. Setiap suku bangsa tersebut tumbuh dan berkembang sesuai dengan alam lingkungannya. Keadaan geografis yang terisolir menyebabkan penduduk setiap pulau mengembangkan pola hidup dan adat istiadat yang berbeda-beda. Misalnya, perbedaan bahasa dan adat istiadat antara suku bangsa Gayo-Alas didaerah pegunungan Gayo-Alas dengan penduduk suku bangsa Aceh yang tinggal di pesisir pantai Aceh.

C.    Bangsa Austronesia sebagai nenek moyang bangsa Indonesia

Orang-orang Austronesia yang memasuki wilayah Nusantara dan menetap di sebut bangsa melayu Indonesia. Mereka inilah yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia sekarang. Bangsa melayu ini dapat di bedakan menjadi dua suku bangsa.
1.     Bangsa melayu tua (proto melayu)
Bangsa melayu  tua adalah orang-orang Austronesia dari asia yang pertamakali datang ke Indonesia pada sekitar 2500 tahun SM. Bangsa melayu tua memasuki wilayah nusantara melalui 2 jalur yakni:
§  Jalur barat melaui semenanjung melayu (Malaysia) – Sumatra.
§  Jalur timur melalui Filipina- Sulawesi.
Bangsa melayu tua memiliki kebudayaan yang lebih tinggi daripada Homo sapiens di Indonesia. Kebudayaan bangsa melayu tua di sebut kebudayaan Neolitikum. Meskipun hampir segala peralatan mereka terbuat dari batu, pembuatannya sudah di haluskan. Hasil budaya zaman ini yang paling terkenal adalah kapak persegi yang banyak di temukan di wilayah Indonesia bagian barat (Sumatra , Jawa, Kalimantan, dan Bali). Menurud penelitian H. kern di kalumpang (Sulawesi utara) telah terjadi perpaduan antara tradisi kapak persegi dengan kapak lonjong yang di bawa oleh orang-orang Austronesia yang datang mengunakan jalan barat menuju ke Indonesia.
Suku bangsa Indonesia yang masuk keturunan bangsa ini adalah suku Dayak, Toraja, Sasak, Nias, Batak, dan Kubu.
2.     Bangsa melayu muda (deutro melayu)
Pada kurun waktu tahun 400-300 SM terjadi  gelombang nenek moyang bangsa Indonesia datang ke Nusantara. Bangsa melayu  muda berhasil mendesak dan berasimilasi dengan pendahulunya, bangsa Proto melayu. Bangsa Deutro melayu datang ke Indonesia melalui jalan barat.

Bangsa deutro melayu memiliki kebudayaan yang lebih maju dibandingkan bangsa Proto melayu karena mereka telah dapat membuat barang-barang dari perunggu dan besi. Hasil budayanya yang terkenal adalah kapak corong, dan nekara.

Selain kebudayaan logam, bangsa melayu muda juga mengembangkan kebudayaan Megalitikum. Hasil kebudayaan ini misalnya Menhir, Dolmen, Sarkofagus, Kubur batu, dan Punden berundak. Suku bangsa Indonesia yang termasuk keturunan bangsa melayu muda adalah suku Jawa, Melayu, Minag, Bugis, Bali, dan suku Makasar di Sulawesi.

Selain dua bangsa di atas masih ada masih ada dua bangsa lagi yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia :
                                                         I.         Bnagsa Melanesia
Bansa Melanesia atau Melanesia mongoloid memiliki cirri-ciri kulit kehitaman, badan kekar, rambut keriting, mulut lebar, dan hidung mancung.bangsa ini sampai sekarang masih memiliki sisa-sisa keturunannya seperti suku-suku di Riau, suku-suku bangsa Papua melanesoid yang mendiami pulau Papua, dan pulau-pulau Melanesia.
                                                   II.            Bangsa primitif
Sebelum kelompok bangsa melayu memasuki nusantara sebenarnya telah ada kelompok-kelompok manusia yang lebih dahulu tinggal di Indonesia. Mereka yang termasuk bangsa Primitif adalah sebagai berikut :
§  Manusia pleistosen (purba)
Kehidupan manusia purba selalu berpindah tempat dengan kemampuan yang sangat terbatas. Demikian pula kebudayaannya sehingga corak kehidupan manusia purba ini tidak dapat diikuti kembali kecuali beberapa aspek saja. Misalnya teknologi yang masih sangat sederhana ( Teknologi Paleolitikum)
§  Suku wedoid
Sisa-sisa suku Wedoid sampai sekarang masih ada, misalnya suku Sakai di Siak dan serta suku Kubu di perbatasan Jambi dan Palembang. Mereka hidup dari meramu dan berkebudayaan sedarhana. Mereka juga sulit sekali menyesuaikan diri dengan masyarakat modern.
§  Suku negroid
Di Indonesia sudah tidak terdapat lagi sisa-sisa kehidupan suku Negroid. Akan tetapi, di pedalaman Malaysia dan Filipina keturunan suku Negroid masih ada. Suku yang termasuk ras negroid, misalnya suku semang di semenanjung Malaysia dan suku negroid di Filipina. Mereka akhirnya terdesak oleh orang-orang melayu modern sehingga sehingga suku ini hanya menempadi daerah pedalaman yang terisolasi.


Ada 2 sistem kepercayaan pokok yang berkembang pada masyarakat prasejarah Indonesia, yaitu:

a. Animisme, adalah kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda termasuk pohon, batu, sungai, dan gunung.

b. Dinamisme, ialah kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan/ kegagalan manusia untuk mempertahankan hidup.

Selain kedua sistem kepercayaan tersebut masih ada yang lain, yaitu:

a. Fetisisme, adalah kepercayaan adanya jiwa dalam benda tertentu (dalam keris, batu mulia/akik)

b. Animatisme, ialah kepercayaan bahwa benda-benda dan tumbuhan itu berjiwa dan berpikir seperti manusia

c. Totemisme, yaitu kepercayaan kepada binatang sebagai totem/ lambang dari dewa nenek moyang baik berupa binatang maupun benda.

d. Syaminisme, adalah kepercayaan akan adanya orang yang dapat menghubungkan manusia dengan roh.

Peralatan penunjang upacara salah satunya Dolmen, yaitu batu yang berbentuk meja dan digunakan sebagai tempat persembahan bagi roh nenek moyang serta mempunyai kekuatan tertinggi yang melindungi mereka.



Perkembangan kepercayaan Masyarakat

a. Kepercayaan terhadap Nenek Moyang

· Sistem kepercayaan pada masyarakat Indonesia sudah ada sejak masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan. Pada masa itu sudah mengenal adanya penghormatan terhadap orang yang sudah meninggal dengan cara menguburkan orang yang sudah meniggal di goa-goa.

· Adanya pandangan,hidup tidak akan berhenti setelah orang meninggal. Orang yang meninggal akan pergi ke suara tempat yang lebih baik. Orang yang sudah meninggal masih dapat dihubungi oleh orang yang masih hidup di dunia ini demikian pula sebaliknya. Jika yang meninggal orang yang berpengaruh maka diusahakan akan selalu ada hubungan untuk dimintai nasehat/ perlindungan bila ada kesulitan dalam kehidupan di dunia.

· Pada masa bercocok tanam ini ditemukan pula bangunan-bangunan megalitikum yang berfungsi sebagai tempat pemujaan/ penghormatan kepada roh nenek moyang. Mereka telah menghormati orang yang sudah meninggal.

· Ditemukan pula bekal kubur, sebab sebagai bekal untuk menuju ke alam lain. Masyarakat Indonesia telah memberikan penghormatan dan pemujaan kepada roh nenek moyang.

b. Kepercayaan Animisme

Muncul kepercayaan yang bersifat Animisme, yaitu suatu kepercayaan masyarakat terhadap suatu benda yang dianggap memiliki roh/ jiwa. Munculnya kepercayaan yang bersifat animisme didasari oleh adanya berbagai pengalaman dari masyarakat yang bersangkutan. Selain itu, adanya kepercayaan di tengah masyarakat terhadap benda-benda pusaka yang dipandang memiliki roh/ jiwa. Contoh: tombak, keris, dan benda-benda pusaka lainnya. Dapat pula bangunan gedung tua, pohon besar, dsb.

c. Kepercayaan Dinamisme

Dinamisme merupakan kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib. Sejak bercocok tanam berkembang kepercayaan dinamisme. Kepercayaan ini timbul didasari oleh pengalaman dari masyarakat yang bersangkutan yang terus berkembang secara turun temurun dari generasi ke generasi hingga sekarang. Seperti keris/ tombak, dipandang memiliki kekuatan gaib untuk memohon turunnya hujan, apabila keris itu ditancapkan dengan ujung menghadap ke atas akan dapat menurunkan hujan.


d. Kepercayaan Monoisme

Kepercayaan Monoisme merupakan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan ini berdasarkan pengalaman-pengalaman dari masyarakat. Pola pikir manusia berkembang. Manusia mulai berpikir tentang apa yang dialaminya. Pertanyaan yang muncul hingga pada kesimpulan bahwa di luar dirinya ada suatu kekuatan yang makin besar dan yang tidak ditandingi oleh kekuatan manusia. Kekuatan itu adalah kekuatan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Manusia percaya bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah pencipta alam semesta beserta isinya. Oleh karena itu, manusia wajib melestarikan alam semesta agar dapat memenuhi kebutuhan hidupannya, atau menjaga keseimbangan alam semesta agar dapat menjadi tumpuan hidup manusia.




BAB III
PENUTUP

a.   SIMPULAN

Nenek moyang bangsa Indonesia datang ke nusnatara melalui dua jalur yakni jalur barat dan timur. Migrasi jalur barat di lakukan dari yunan ke semenanjung Malaysia, Kalimantan , menuju Jawa dan Nusa Tenggara. Penyebaran jalur timur di mulai dari Teluk Tonkin menyusuru pantai asia timur menuju Taiwan , Filipina, Sulawesi, Maluku, papua, sampai australia . Mereka datang secara bergelombang, gelombang pertama adalah bangsa prota melayu yang datang membawa kebudayaan kapak persegi dan kapal bercadik satu. Gelombang kedua adalah bangsa deutro melayu yang datang membawa kebudayaan kapak lonjong dan kapal bercadik dua.
Sebelum kedua bangsa melayu tersebut datang ke nusantara da beberapa suku primitive yang sudah terlebih dahulu menetap di nusantara.
Oleh karna itu saat bengsa melayu datang ke nusantara meraka melakukan proses kawin mengawin dangan suku asli yang sudah mendiami nusantara terlebih dahulu. Karna itu bangsa Indonesia sekarang adalah turunan dari bangsa deutro melayu, prota melau, bangsa Melanesia dan bangsa primitive yang dulu mendiami nusantara.
Dan padasaat itu keadaan geografis Indonesia yang luas memaksa mereka untuk tinggal terpencar di seluruh wilayah nusantara yang sangat luas. Sehingga mereka hidup sacara terisolasi dari suku bangsa yang lain.

 





DAFTAR PUSTAKA
Hermanto, pembelajarn sejarah interaktif platinum

No comments:

Post a Comment