Tuesday, 26 January 2016

Sejarah ambalan Kiansantang – Rarasantang

KIAN SANTANG

Kian santang merupakan anak sulung dari tiga bersaudara yaitu dirinya sendiri,Dewi Rara Santang dan Walangsungsang.Kian Santang lahir pada tahun 1315,konon katanya sejak kecil Kian Santang adalah anak yg tangguh sampai ada cerita ia belum pernah melihat darahnya sendiri dikarenakan belum pernah ada orang yg berhasil melukainya
Ketika Kian Santang menginjak usianya yang ke-22 pada tahun 1337 masehi, ia diangkat menjadi dalem Bogor. Kejadian ini bertepatan dengan diangkatnya Prabu Munding Kawati sebagai panglima besar kerajaan Pajajaran. Kejadian tersebut menjadi sebuah kejadian paling istimewa dan paling historis dalam lingkungan Pajajaran karena kejadian ini meninggalkan sebuah prasasti yang dikenal banyak orang, yaitu Batu Tulis Bogor.

Ada beberapa versi tentang sejarah Prabu Kian Santang yang merasa terlalu kuat sehingga ia mencari lawan yang sepadan untuknya. Versi pertama adalah ia meminta ayahnya untuk mencarikan siapapun itu yang bisa mengalahkannya. Mendengar ini, sang ayah segera memanggil seorang ahli nujum demi memberikan tantangan kepada anaknya. Ketika hampir putus asa karena tidak ada ahli nujum yang mampu memberi tahu dimana ada orang yang mampu mengalahkannya, datanglah seorang kakek yang berkata bahwa jauh di tanah Mekkah sana, ada seseorang bernama Sayyidina Ali yang mampu mengalahkan Kian Santang. Sebelum Kian Santang mampu melawan Ali, kakek tersebut berkata bahwa Kian Santang harus melakukan mujasmedi di Ujung Kulon dan mengubah namanya menjadi Galantrang Setra yang jika diartikan secara harfiah menjadi "berani dan suci". Versi kedua mengatakan bahwa pertemuan Kian Santang dan kakek tua terjadi di dalam mimpi yang berulang berkali-kali, dimana akhirnya sang Kakek menunjuk ke arah lautan dan berkata bahwa orang yang mampu mengalahkan Kian Santang ada di seberang lautan.
Terlepas dari beberapa versi yang berbeda tentang pertemuan Kian Santang dengan sang kakek, hal yang pasti adalah kemudian Kian Santang pergi untuk mencari kakek ini. Lagi, beberapa versi menggambarkan hal yang tidak sama dimana satu versi menyatakan Kian Santang pergi ke Mekkah dan yang satu lagi hanya mengatakan bahwa Kian Santang pergi menyeberangi lautan.

Ketika akhirnya tiba di tempat tujuan, ia tidak langsung bertemu dengan orang yang bernama Ali tapi harus tersesat di antara keringnya padang pasir sebelum akhirnya bertemu seorang kakek tua. Pertemuannya dengan sang kakek ini ada dalam semua versi cerita, dan hal yang ditugaskan oleh sang Kakek sebelum mengantarkan Kian Santang bertemu dengan Ali juga sama, yaitu Kian Santang harus mencabut sebuah tongkat yang ditancapkan ke tanah.

Lagi-lagi sejarah Prabu Kian Santang mengalami perbedaan versi ketika satu versi menyatakan begitu Kian Santang mengaku kalah, kakek yang meminta tolong untuk dicabutkan tongkatnya adalah Ali, sementara versi lain mengatakan bahwa Ali kemudian datang untuk mencabut tongkat tersebut setelah sebelumnya membaca bismillah. Terlepas mana yang terjadi, Kian Santang kemudian memeluk agama Islam dan kembali pulang ke Pajajaran dengan sesekali pergi ke Mekah untuk belajar lebih dalam tentang agama tersebut.
Penyebaran Islam Oleh Kian Santang
Awal mula niatan penyebaran Islam oleh Kian Santang adalah ketika ia pertama kali kembali ke Pajajaran dan menceritakan tentang ke-Islamannya pada Prabu Siliwangi. Bukannya senang, Prabu Siliwangi malah kaget dan menolak ajakan. anaknya untuk masuk Islam. Karena hal ini, Kian Santang kembali menekuni Islam di Mekah dan baru kembali setelah tujuh tahun.Begitu kembli, ia mencoba untuk pertama-tama menyebarkan ajaran agama yang baru ia pelajari kepada masyarakat sekitar. Mengingat ide agama Islam yang membawa keselamatan di dunia dunia dan di Akhirat, masyarakat Pajajaran dengan senang hati menerima agama baru tersebut. Baru setelah banyak masyarakat yang menganut islam ia berani memutuskan untuk kembali mengajak ayahnya menganut agama yang ia ajarkan.
Mendengan berita bahwa Kian Santang telah kembali, Prabu Siliwangi yang harga dirinya terlalu tinggi memutuskan untuk pergi dari kerajaan daripada harus di ajak untuk masuk islam. Setelah kabur dengan sebelumnya menghancurkan kerajaan, Prabu Siliwangi sempat beberapakali terkejar oleh Kian Santang, tapi ia tetap tidak tertarik untuk masuk kedalam agama islam .akhirnya Kian Santang dengan berat hati kembali ke Padjajaran untuk membangun ulang kerajaan tersebut sambil terus menyebarkan ajaran islam ke daerah – daerah pelosok. Karena hal inilah, ketika kita membicarakan tentang   berkembangnya   Islam   di   daerah   Jawa   Barat,   kita   tidak   bisa melupakan sejarah Prabu Kian Santang.
2.Rara Santang
Rara Santang (Syarifah Muda'im) yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangidari Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang dan Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana / Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi. seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi bin Ahmad. Ia dimakamkan bersebelahan dengan putranya yaitu Sunan Gunung Jati di Komplek Astana Gunung Sembung
( Cirebon )
Suaminya adalah syarif Abdullah, seorang mubaligh dan musafir besar dari Gujarat, India. Syarif dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akabar adalah putra Ahmad Jalal Syah bin Abdullah Khan bin Abdul Malik bin Alwi bin Syekh Muhammad Shahib Mirbath. Syekh Muhammad Shahib Mirbath adalah Ulama' besar di Hadramaut, Yaman yang silsilahnya sampai pada Rosulullah melalui cucunya, Imam Husain.
Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah, cucu Syekh Maulana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-
tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat
belajar Nyai Subang Larang ibu dari Rara Santang atau di Majelis Syekh Datuk Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kian Santang dan Pangeran Walangsungsang, kakanda dari Rara Santang).
Syarif Abdullah sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayah dan kakeknya datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu.
Pemikahan Rara Santang dengan Abdullah melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah ( Sunan gunung Jati )



No comments:

Post a Comment